GURU, PEKERJAAN atau PENGORBANAN (?)
Halo teman-teman,
Hari guru sudah lewat, pemikiran tentang guru pun sudah memenuhi benak sejak beberapa bulan yang lalu. Tetapi baru hari ini benar-benar butuh diuraikan.
Guru, si penyandang gelar yang mulia. Guru adalah pahlawan, namanya begitu harum dan terhormat, jasanya pun tak ternilai. Tetapi tanda penghormatan maupun penghargaan tak ia dapatkan, karyanya (mendidik generasi penerus) juga tak tertanda. Maka dari itu, satu-satunya penghargaan dan penghormatan kebanggaannya hanyalah PAHLAWAN TANPA TANDA JASA. Apakah profesi sebagai guru termasuk pekerjaan yang menjanjikan? Menurut saya, jawabannya tergantung waktu, sudut pandang dan orientasi masing-masing individu.
Beberapa kurun waktu yang lalu, guru jarang dilirik, bahkan mungkin tidak masuk dalam daftar pekerjaan bergengsi untuk menggenggam kesuksesan. Gaji yang tidak memadai adalah salah satu alasannya. Maka jaman dulu ketika menyebut guru, gambaran yang muncul adalah sosok yang begitu sederhana, jauh dari kemewahan, sepeda butut, sepatu dan tas usang, serta masih banyak lagi. Hanya penyabar dan pecinta kesederhanaan yang bercita-cita menjadi guru.
Saat ini, peminat guru meningkat drastis. Mengapa demikian? Tawaran fasilitas yang menggiurkan seperti gaji tetap, tunjangan, dan kerja dengan berseragam yang tentu saja dipandang keren dan positif di masyarakat, itulah daya tariknya. Maka tidak mengherankan jika saat ini banyak sekali jurusan kependidikan di perguruan tinggi. Tetapi, lagi-lagi fasilitas tersebut di atas tidak berlaku secara menyeluruh. Hanya ASN yang berhak dan beruntung mendapatkannya. Guru honorer ya jangan harap.Guru honorer mendapat gaji perbulan secara rutin saja sudah sangat bersyukur. ada di beberapa tempat yang gajian beberapa bulan sekali itupun kurang dari UMR. Hal itu tidak sebanding dengan beban kerja yang diemban seorang guru. Guru dituntut aktif, kreatif, membuat suasana kelas menyenangkan, kemudian masih ditambah tugas-tugas adminstrasi yang beraneka macam. baiklah tarik nafas dulu!
Kerja serius tapi gaji bercanda! tepat sekali. Kalau mau kaya jadilah pengusaha, jangan jadi guru. Lalu para guru makan apa ? bagaimana akomodasi berangkat sekolah? Ya kerja tambahan. tanpa itu, guru honorer mungkin akan sering puasa. Apalagi kondisi dunia pendidikan saat ini, ramah anak (tidak) ramah guru. Guru menasehati siswa, berujung masuk penjara dengan dalih pelanggaran HAM, merdeka belajar, anak dimerdekakan, semua anak harus naik kelas padahal kemampuan sangat-sangat kurang, nilai bukan indikator keberhasilan, anak harus bahagia, dan masih banyak lagi. Tujuannya baik, tapi apakah kebaikannya sudah dirasakan?
Anak semau sendiri karena dilindungi HAM, tidak menghargai guru, adab dan sopan santun menurun, motivasi belajar rendah karena tidak lagi mengejar nilai.yang kemudian lahirlah generasi muda yang manja dan zonk!! Saya pernah mendengar celetukan seorang siswa, "buat apa belajar dan repot-repot mengerjakan soal, toh nanti naik kelas kan bu?". Sakit sekali hati saya mendengarnya. Inikah yang para pembuat kebijakan inginkan? salah siapa? Tentu saja semua salah GURU, bukankah guru yang bertanggungjawab mendidik anak bangsa?
Dituntut mendidik dengan cinta tapi tidak dicintai. Ya, guru adalah pengorbanan.

Komentar
Posting Komentar